SEHARI MENEMPATI RUMAH BARU, TANTE MENINGGAL
-A THREAD HORROR-
-A THREAD HORROR-
Sekitar November 2016, Tante ayu memutuskan untuk pindah ke kota. Beliau sudah mempunyai 3 anak yang berada di rentang usia 20an, salah satunya berprofesi sebagai polisi.
Mengingat anak anaknya sudah bisa hidup sendiri, beliau memutuskan untuk membeli sebuah BTN kecil sebagai
Mengingat anak anaknya sudah bisa hidup sendiri, beliau memutuskan untuk membeli sebuah BTN kecil sebagai
Tempat berlindung dengan suaminya. BTN yang di pilih pun, salah satu perumahan yang baru selesai tahap pembangunan. Bisa dibilang penghuni kompleks itu masih bisa dihitung jari
Proses pemindahan, cukup cepat karena banyaknya keluarga yang datang membantu.
Proses pemindahan, cukup cepat karena banyaknya keluarga yang datang membantu.
Secara spesifik, lingkungan kompleks itu dahulu adalah hutan lebat tetapi karena maraknya pembangunan suasananya tidak terlalu menyeramkan jika "ramai".
Hari pertama pindahan, Tante ayu memutuskan untuk belum tidur di rumahnya. Kata beliau rumahnya masih belum
Hari pertama pindahan, Tante ayu memutuskan untuk belum tidur di rumahnya. Kata beliau rumahnya masih belum
Terlalu layak untuk di tempati, mengingat barang barang yang dari kampung belum tertata rapi. Suaminya pun mengiyakan. Malam itu Tante ayu menginap di salah satu rumah saudara kami (om Hery).
"Yu, kok aku kurang srekk yah sama rumah kamu ini" tiba tiba om Hery berucap didepan tv
"Yu, kok aku kurang srekk yah sama rumah kamu ini" tiba tiba om Hery berucap didepan tv
"kenapa emangnya?" Tante ayu menjawab dengan cuek di meja makan
"Gini loh, orang kompleks situ masih dikit. Lampu jalan juga belum ada, kamu nggak takut emangnya di belakang nya hutan gitu"
"Perasaanmu kali aja mas, waktu survei hanya rumah itu doang yang narik penglihatan ku"
"Gini loh, orang kompleks situ masih dikit. Lampu jalan juga belum ada, kamu nggak takut emangnya di belakang nya hutan gitu"
"Perasaanmu kali aja mas, waktu survei hanya rumah itu doang yang narik penglihatan ku"
Karena jawaban yang tak acuh dari Tante ayu, om Hery tidak melanjutkan perkataannya. Yang pasti ada maksud tersendiri mengapa dia meminta Tante ayu untuk berpikir ulang sama rumah itu.
Paginya, Tante ayu bergegas untuk pergi ke rumah barunya buat beberes. Ketika mengepel lantai beliau berkali kali mengarahkan pandangan dengan tidak sengaja ke arah kamar utama. Beliau merasa seperti ada yang mengawasi. Sementara suaminya sedang berada
Di depan rumah, beliau sedang menata tanaman Tante ayu. Tante ayu yang merasa agak tidak nyaman di dalam rumah bergegas keluar.
"Mas, kok aku ngerasa kaya ada yang lihatin dari dalam kamar yah"
"Mungkin penunggu nya ingin kenalan sama kita kali" ucap suaminya dengan bercanda
"Mas, kok aku ngerasa kaya ada yang lihatin dari dalam kamar yah"
"Mungkin penunggu nya ingin kenalan sama kita kali" ucap suaminya dengan bercanda
Karena kesal dengan guyonan itu Tante ayu, duduk di tangga depan rumah. Tiba tiba matanya tertuju pada rumah depannya. Beliau melihat sosok laki laki yang sedang mengintip dari balik tembok
"Mas, bukannya rumah depan kosong yah?"
"Iya kosong, kan waktu survey kita juga ngelihat
"Mas, bukannya rumah depan kosong yah?"
"Iya kosong, kan waktu survey kita juga ngelihat
rumah itu. Kayanya sampe sekarang belum ada ngisi juga" suaminya menjawab tanpa berbalik.
Percakapan berhenti sampai di situ, merasa tidak enak Tante ayu memutuskan untuk masuk, menurutnya rumah sendiri adalah yang paling aman.
Percakapan berhenti sampai di situ, merasa tidak enak Tante ayu memutuskan untuk masuk, menurutnya rumah sendiri adalah yang paling aman.
Masuk ke rumah, karena lelah beliau ingin tidur siang. Tetapi entah kenapa Tante ayu memiliki perasaan yang tidak enak pada kamar utama, beliau memutuskan tidur di sofa yang menghadap ke kamar utama. Dalam tidurnya ia bermimpi.
Ia bermimpi, ibunya datang untuk membantu pindahan. Setelah box terakhir di turunkan dari mobil, ibunya berkata.
"Ibu dulu yang masuk nak, kamu tunggu dulu di luar. Ibu mau periksa dulu" ia dengan patuh mendengar kan perintah ibunya
"Ibu dulu yang masuk nak, kamu tunggu dulu di luar. Ibu mau periksa dulu" ia dengan patuh mendengar kan perintah ibunya
Selang lama ia menunggu, ibunya kembali dari dalam rumah. Sambil berkata
"Ayo pergi, jangan di sini. Mereka lapar"
Setelah kata itu, Tante ayu tersentak dari tidurnya. Apa maksud dari kata ibunya? Sementara ibunya tidak membantu pindahan karena sudah lama meninggal dunia
"Ayo pergi, jangan di sini. Mereka lapar"
Setelah kata itu, Tante ayu tersentak dari tidurnya. Apa maksud dari kata ibunya? Sementara ibunya tidak membantu pindahan karena sudah lama meninggal dunia
Tiba tiba perasaan tidak enak itu muncul, ia pergi ke arah suaminya di dapur dan menceritakan mimpinya. Suaminya pun tidak mengerti maksud ucapannya dan menganggap hanya bunga tidur.
Setelah tenang, adzan magrib berkumandang. Entah mengapa malam itu hujan tiba tiba datang dengan lebat, bahkan di Sertai dengan angin kencang.
Tante ayu yang takut terus menempel bersama suaminya, karena takut ada apa apa. Tante ayu mencoba mengintip ke jendela depan
Tante ayu yang takut terus menempel bersama suaminya, karena takut ada apa apa. Tante ayu mencoba mengintip ke jendela depan
Yang di temuinya hanya sebuah jalan yang kosong nan gelap, rumah depan yang hampa. Tante ayu semakin takut.
"Mas, kita tidur di ruang tengah saja yah. Aku takut kenapa-napa kalo kita tidurnya di kamar malam ini"
"Mas, kita tidur di ruang tengah saja yah. Aku takut kenapa-napa kalo kita tidurnya di kamar malam ini"
Karena merasa tidak enak, suaminya mengiyakan. Mereka tidur di ruang tamu beralaskan selimut.
Suaminya tidur dengan nyenyak malam itu sehingga tidak merasakan sekitarnya.
Suaminya tidur dengan nyenyak malam itu sehingga tidak merasakan sekitarnya.
Sinar matahari sudah usil di sela sela gorden ruang tamu pagi itu. Suaminya bangun dari tidurnya dan menyadari sebelahnya kosong mungkin Tante ayu pergi ke pasar untuk bahan sarapan. Karena tidak terlalu di hiraukan, beliau memasuki area dapur untuk mengambil minum
Ketika minum, mata beliau tiba tiba tertuju pada pintu kamar utama yang terbuka sedikit. Melihat celah itu, beliau agak sedikit terganggu. Beliau memutuskan untuk menutup pintu kamar utama dan melanjutkan tidurnya
Tetapi setiap langkah yang di pijaknya terasa berat, seperti ada yang meraih pergelangan kakinya. Dengan susah payah ia telah sampai di depan kamar utama. Seharusnya beliau hanya ingin menutup pintu.
Tetapi niat tersebut di urungkan karena ada perasaan ingin memasuki kamar tidur itu, seperti ada yang memanggil dia.
Perlahan-lahan beliau mulai mendorong pintu, sampai setengah terbuka beliau terkejut bukan main.
Ini adalah salah satu mimpi buruknya
Perlahan-lahan beliau mulai mendorong pintu, sampai setengah terbuka beliau terkejut bukan main.
Ini adalah salah satu mimpi buruknya
Alangkah terkejutnya melihat ke dalam kamar tidur dilihatnya Tante Ayu sudah terbujur kaku dengan seluruh bagian kiri badannya membiru di atas tempat tidur dengan mulut terbuka.
Berkali kali suaminya meyakinkan diri bahwa ini hanyalah mimpi buruk, di tepuk pipinya pun tidak terdapat perubahan dengan apa yang di lihat di depannya. Istrinya yang paling ia sayangi kini tiada
Ketika kakinya mulai bisa bertumpu, ia bergegas mencari ponselnya dan menghubungi keluarga kami. Berhubung jarak rumahnya lebih dekat dengan rumahku, kami sekeluarga langsung bergegas.
Ketika sampai di rumahnya, saya melihat suaminya dengan tidak berdaya menatapi tembok bagian lemari sambil menggenggam tangan Tante ayu di atas tempat tidur.
Beliau memukul kepalanya berkali kali dan bilang menyesal.
Kami saat itu belum tahu apa yang terjadi dan masih tercengang, tubuh seakan membeku dan tidak bisa melakukan apa apa. Hanya ayah yang bersikap tenang meskipun dalam hatinya tidak seperti itu
Kami saat itu belum tahu apa yang terjadi dan masih tercengang, tubuh seakan membeku dan tidak bisa melakukan apa apa. Hanya ayah yang bersikap tenang meskipun dalam hatinya tidak seperti itu
Ayah menghubungi semua kerabat kami setelah memastikan denyut jantung Tante ayu sudah tidak ada. Ia menangisi kepergian adik perempuannya.
Suaminya bersikeras untuk memanggil ambulance, ia ingin Tante ayu di bawa ke rumah sakit untuk di beri penanganan.
Suaminya bersikeras untuk memanggil ambulance, ia ingin Tante ayu di bawa ke rumah sakit untuk di beri penanganan.
Karena menurutnya Tante ayu, belum meninggal. Tante ayu, masih bisa di selamat kan.
Ayah cuman bisa menepuk bahunya dan menenangkan suami Tante ayu. Ibu hanya tercengang pada satu titik dan menutupi mataku beberapa saat.
Ayah cuman bisa menepuk bahunya dan menenangkan suami Tante ayu. Ibu hanya tercengang pada satu titik dan menutupi mataku beberapa saat.
Aku tidak tahu apa yang ibu lihat, tetapi aku bisa merasakan kematian itu tidak wajar.
Om Hery datang dengan gurat marah, ia menghampiri kamar utama dan masuk untuk mencengkram kaos suami Tante ayu
Om Hery datang dengan gurat marah, ia menghampiri kamar utama dan masuk untuk mencengkram kaos suami Tante ayu
"sudah ku bilang, rumah ini tidak baik baik saja" jika tidak di hentikan ayah, nyawa suami Tante ayu pun mungkin ikut melayang.
Sambil menangisi Tante ayu, om Hery menatap ke arah ibuku.
Sambil menangisi Tante ayu, om Hery menatap ke arah ibuku.
"ini tidak wajar kan mbak? Bagaimana bisa orang yang sehat sehari lalu tiba tiba meninggal dengan keadaan badan setengah biru?"
Ibuku hanya mematung, dan beralih ke arahku. Sambil berkata
"Keluar lah dulu, sambut keluarga kalau mereka sudah tiba di sini"
Ibuku hanya mematung, dan beralih ke arahku. Sambil berkata
"Keluar lah dulu, sambut keluarga kalau mereka sudah tiba di sini"
Saat itu aku merasa bahwa ada sesuatu yang mungkin turut ambil bagian dalam kematian Tante ku.
Aku memutuskan untuk tidak menguping dan berjalan ke arah ruang tamu. Di ruang tamu masih ada tempat tidur yang di gunakan oleh Tante ayu dan suaminya.
Aku memutuskan untuk tidak menguping dan berjalan ke arah ruang tamu. Di ruang tamu masih ada tempat tidur yang di gunakan oleh Tante ayu dan suaminya.
Aku membereskannya, tidak lama anak Tante ayu berdatangan. Tentu saja dengan isak tangis yang memilukan.
Berselang beberapa menit, sepupuku yang paling tua datang berserta anak kecilnya yang berusia 3 tahun.
Berselang beberapa menit, sepupuku yang paling tua datang berserta anak kecilnya yang berusia 3 tahun.
Baru beberapa langkah memasuki area ruang tamu, keponakanku itu menangis menjerit bagai melihat sesusatu. Ibuku yang mendengar jeritan itu sontak keluar dari kamar utama dan menghampiri keponakanku.
Ibuku menutup mata keponakanku dan membisikkan sesuatu di telinganya. Aku terbiasa melihat hal itu, ibuku memang bisa merasakan entah mungkin juga bisa melihat tetapi beliau tidak pernah untuk membahasnya
Aku di suruh untuk menenangkan keponakanku di luar rumah, baru juga kami duduk di tangga depan. Ia menangis lagi dengan lantang sambil menunjuk area rumah depan.
Sepupuku yang tertua langsung menghampiri kami dan menggendong anaknya. Anaknya sudah mulai tenang.
Sepupuku yang tertua langsung menghampiri kami dan menggendong anaknya. Anaknya sudah mulai tenang.
Ia berkata "La, ibumu bilang kemantian Tante ayu salah satu perbuatan penunggu rumah ini"
"Mbak, aku Ndak tau harus kaya gimana"sambil menggenggam tanganku yang gemetar
"Mbak, aku Ndak tau harus kaya gimana"sambil menggenggam tanganku yang gemetar
"kamu betul Ndak rasa, ada yang beda? Mbak kira kamu juga bisa ngerasa kaya ibumu"
"Aku cuman berasa diawasi terus"
"La, kamu Ndak nyadar kenapa berasa di awasi terus?" Mbak Yesi memandang jauh di depan
"Aku cuman berasa diawasi terus"
"La, kamu Ndak nyadar kenapa berasa di awasi terus?" Mbak Yesi memandang jauh di depan
"kamu lagi datang bulan kan? Bau mu ituloh yang bikin mereka ngincar" tambah mbak Yesi, sontak membuatku kaget.
Aku tidak merasa bau darahku tidak begitu tajam, tapi mengapa mbak Yesi tau kalau aku lagi halangan
Aku tidak merasa bau darahku tidak begitu tajam, tapi mengapa mbak Yesi tau kalau aku lagi halangan
Setelah berkata demikian, ibu keluar dari rumah dan menyuruh ku untuk ikut pulang. Katanya harus ada beberapa barang yang di ambil untuk keperluan almarhumah.
Aku menyetir mobil dengan kecepatan sedang, ketika ibu mulai membuka suara
Aku menyetir mobil dengan kecepatan sedang, ketika ibu mulai membuka suara
"kamu Ndak usah ikut sebentar yah, tinggal aja kamu di rumah" kata ibu dengan nada lembut.
"Loh, kenapa Bu? Kita lagi berduka tapi akunya di rumah"
"Ibu Ndak mau kamu kenapa-napa, di rumah aja biar aman"
"Loh, kenapa Bu? Kita lagi berduka tapi akunya di rumah"
"Ibu Ndak mau kamu kenapa-napa, di rumah aja biar aman"
Tetapi saat itu aku bersikeras untuk tetap ikut, sampai di rumah ibu menarikku untuk cepat masuk ke dalam.
Ia membisikan satu fakta, yang membuatku tidak ingin lagi menginjakan kaki di rumah almarhumah Tante ayu.
Ia membisikan satu fakta, yang membuatku tidak ingin lagi menginjakan kaki di rumah almarhumah Tante ayu.
Dari sudut pandang ibu
Ketika memasuki area pekarangan rumah ayu, aura gelap terasa dihalamam rumahnya.
Kakiku berasa berat untuk melangkah, dengan gontai dan merangkul anakku, aku masuk dengan nafas berat.
Ketika memasuki area pekarangan rumah ayu, aura gelap terasa dihalamam rumahnya.
Kakiku berasa berat untuk melangkah, dengan gontai dan merangkul anakku, aku masuk dengan nafas berat.
Rumah ayu bisa di bilang minimalis dengan warna cerah, tetapi warna tersebut tidak mampu menyembunyikan kesan seram di dalamnya. Anakku ku rangkul seberat mungkin agar tidak jauh dariku.
Suamiku berjalan menelusuri rumah tempat terdengarnya suara isak tangis Andi (suami ayu). Aku hanya bisa mematung ketika sudah berada di dalam kamar utama rumah itu. Dengan bau cat yang masih segar mataku terpaku pada tembok di samping lemari tua
Aku seolah terisap di mesin waktu, semuanya tidak bergerak. Aku? Hanya memandang tembok itu.
Ketika pandangan sangat fokus ke satu titik, tiba tiba sosok laki laki menjulurkan kepalanya dari balik tembok itu. Dengan reflek ku tutupi mata anakku.
Ketika pandangan sangat fokus ke satu titik, tiba tiba sosok laki laki menjulurkan kepalanya dari balik tembok itu. Dengan reflek ku tutupi mata anakku.
Aku beralih ke arah anak gadisku
"Keluar lah dulu, sambut keluarga bila sudah ada di sini"
Itu kata pertama yang bisa aku ucapkan agar tidak membuatnya takut, meski aku tau dia tidak bisa melihat apa yang telah aku lihat.
"Keluar lah dulu, sambut keluarga bila sudah ada di sini"
Itu kata pertama yang bisa aku ucapkan agar tidak membuatnya takut, meski aku tau dia tidak bisa melihat apa yang telah aku lihat.
Anakku keluar dari kamar Ayu, sementara aku masih bisa belum bergerak dari objek pandangku.
Mahluk itu, melihat anakku berjalan keluar kamar. Ku rapalkan doa apapun yang aku ingat supaya anakku aman dari jangkauannya.
Mahluk itu, melihat anakku berjalan keluar kamar. Ku rapalkan doa apapun yang aku ingat supaya anakku aman dari jangkauannya.
Aku tau, anakku hari ini adalah incaran berikutnya, sebab dirinya sedang datang bulan.
Sekuat tenaga aku berusaha bersikap baik baik saja di depan suamiku, Andi dan Hery. Tapi itu tidak berlangsung lama ketika Hery menyeret ku di dunia nyata
Sekuat tenaga aku berusaha bersikap baik baik saja di depan suamiku, Andi dan Hery. Tapi itu tidak berlangsung lama ketika Hery menyeret ku di dunia nyata
"mbak, kamu sadar hei" Hery sambil menggoncang lenganku
"Mbak, kematian ayu Ndak normal kan?" Ia menatapku meminta persetujuan
"Mbak tolong cari tahu apa penyebab kematian ayu" ia sedikit berteriak dengan putus asa
"Mbak, kematian ayu Ndak normal kan?" Ia menatapku meminta persetujuan
"Mbak tolong cari tahu apa penyebab kematian ayu" ia sedikit berteriak dengan putus asa
"cukup... Cukup... Ikhlaskan her" kataku lesu, aku saat ini berada di bawah tekanan.
Mahluk tadi masih berada di tembok itu,setengah badannya telah keluar sedang bagian kakinya masih berada di dalam tembok.
Mahluk tadi masih berada di tembok itu,setengah badannya telah keluar sedang bagian kakinya masih berada di dalam tembok.
Tangannya berusaha menggapai mayat ayu, mahluk itu melihat mayat ayu sebagai santapan yang lezat. Bahkan ketika semua tubuhnya sudah berada di dalam kamar ini, aku tidak mampu untuk melakukan apapun.
Air mataku jatuh, ketika mahluk itu mulai merangkak ke mayat ayu. Ia bersimpuh di atas mayat ayu dan menancapkan giginya yang tajam dan panjang ke arah leher ayu.
Aku tidak kuat melihat itu terjadi di depanku, aku berbalik menuju pintu. Ketika aku dengar suara cucuku menangis menjerit, aku segera tau rumah ini bukan hanya dihuni satu penunggu.
Bagai telah berlari ribuan kilometer setelah keluar dari kamar ayu, aku menuju kearah suara tangis cucuku. Ia menjerit sampai wajahnya menjadi merah.
Aku dekati dan kututupi matanya yang melihat sosok laki laki berlidah panjang dan menjijikan dengan liur yang menetes di badannya
Aku dekati dan kututupi matanya yang melihat sosok laki laki berlidah panjang dan menjijikan dengan liur yang menetes di badannya
Ku bisikan doa doa singkat. Cucuku kembali tenang dan kusuruh anakku untuk mengajaknya bermain di luar.
Ketika mereka sudah pergi keluar, aku memutuskan untuk kembali ke kamar. Alangkah terkejutnya aku ketika di depan kamar ayu sudah bertengger mahluk
Ketika mereka sudah pergi keluar, aku memutuskan untuk kembali ke kamar. Alangkah terkejutnya aku ketika di depan kamar ayu sudah bertengger mahluk
Dengan tiga rupa yang berbeda, salah satunya adalah mahluk yang berlidah panjang yang menakuti cucuku. Aku berbalik cepat ke arah pintu keluar.
Aku mengajak anakku untuk pulang ke rumah dengan beralasan mengambil barang untuk keperluan pemakaman almarhumah.
Aku mengajak anakku untuk pulang ke rumah dengan beralasan mengambil barang untuk keperluan pemakaman almarhumah.
Tetapi itu bukan tujuanku, tujuanku menjauhkan anakku sejauh mungkin untuk menjadi korban selanjutnya.
-malam ke tujuh kematian ayu (sudut pandang ibu)-
Salah satu kerabat jauh kami (mas rendy) datang untuk melantunkan ayat ayat Alquran buat di kirimkan kepada almarhumah.
Setelah selesai prosesi acara, mas rendy berbincang bincang dengan suamiku.
Salah satu kerabat jauh kami (mas rendy) datang untuk melantunkan ayat ayat Alquran buat di kirimkan kepada almarhumah.
Setelah selesai prosesi acara, mas rendy berbincang bincang dengan suamiku.
Aku tidak sengaja bertemu pandang dengan mas Rendy, ketika dia melontarkan pertanyaan aku di buat kaget
"Kamu sudah tahu dan sudah lihat, mengapa tidak mencoba untuk menghentikan?" Aku seolah di buat sebagai tersangka akibat kejadian ini.
"Kamu sudah tahu dan sudah lihat, mengapa tidak mencoba untuk menghentikan?" Aku seolah di buat sebagai tersangka akibat kejadian ini.
"Saya sudah bermediasi tadi subuh, beliau yang di kamar itu hanya memakan setengah tubuhnya. Sedang yang membuatnya tewas adalah sosok lain yang lebih kuat"
Mas Rendy menjelaskan sosok yang lebih kuat ini adalah sosok yang membawa ayu ke kamar itu.
Mas Rendy menjelaskan sosok yang lebih kuat ini adalah sosok yang membawa ayu ke kamar itu.
END..
Genks, mau end ceritanya di sini, atau lanjut dengan sudut pandang ibu mengenai mas Rendy?
Sebenarnya aku punya foto Tante ayu, tapi kaya kurang etis menyebarkan foto tersebut di platform seperti ini. Dapat izin bagiin cerita ini dari ibu aja susah_-
Terimakasih sudah baca♥️
Sebenarnya aku punya foto Tante ayu, tapi kaya kurang etis menyebarkan foto tersebut di platform seperti ini. Dapat izin bagiin cerita ini dari ibu aja susah_-
Terimakasih sudah baca♥️